Pernahkah Anda merasa perut mulas hanya karena melihat notifikasi pesan dari bos yang berbunyi, "Bisa ke ruangan saya sebentar?" Jika iya, kemungkinan besar budaya feedback di tempat kerja atau kantor Anda masih terasa menakutkan. Padahal, feedback seharusnya menjadi bahan bakar untuk bertumbuh, bukan hantu yang menjatuhkan mental.
Membangun budaya kritik yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar keberanian untuk bicara jujur. Ini tentang bagaimana kita menyampaikan pesan tanpa menghancurkan rasa percaya diri rekan kerja. Mari kita bahas cara melakukannya dengan lebih "manusiawi".
1. Fokus pada Perilaku, Bukan Personalitas
Kesalahan terbesar saat memberi masukan adalah menyerang karakter seseorang. Misalnya, daripada bilang "Kamu malas banget, ya," jauh lebih baik jika Anda berkata, "Saya perhatikan laporan kamu dalam dua minggu terakhir sering terlambat dari tenggat waktu."
Dengan demikian, karyawan tidak akan merasa dipojokkan secara personal. Mereka akan fokus pada masalah teknis yang memang perlu diperbaiki, bukan merasa dirinya gagal sebagai manusia.
2. Gunakan Metode 'Sandwich' (Tapi Jangan Terasa Palsu)
Metode klasik ini adalah menyelipkan kritik di antara dua pujian. Namun demikian, jangan sampai pujian yang Anda berikan terasa seperti basa-basi belaka.
Mulailah dengan mengapresiasi apa yang sudah berjalan baik, sampaikan poin yang perlu diperbaiki dengan jelas, lalu tutup dengan kalimat penyemangat tentang potensi mereka di masa depan. Selain itu, pastikan nada bicara Anda tetap tenang agar pesan yang disampaikan bisa diterima dengan kepala dingin.
3. Feedback Harus Bersifat Dua Arah
Komunikasi yang sehat bukanlah instruksi satu arah. Setelah Anda memberikan masukan, cobalah bertanya: "Bagaimana menurutmu? Ada kendala yang bisa saya bantu?"
Oleh karena itu, karyawan akan merasa bahwa feedback ini adalah bentuk dukungan perusahaan terhadap karier mereka, bukan sekadar ajang cari-cari kesalahan. Mendengarkan perspektif karyawan juga bisa membantu manajer memahami akar masalah yang mungkin selama ini tidak terlihat.
4. Jangan Menunggu Sampai Evaluasi Tahunan
Menyimpan kritikan selama berbulan-bulan hanya akan menciptakan bom waktu. Sebagai hasilnya, saat masalah tersebut akhirnya dibahas, karyawan mungkin sudah lupa detail kejadiannya atau merasa tidak adil karena kesalahannya dibiarkan menumpuk.
Berikan masukan secara rutin dan sesegera mungkin. Feedback kecil yang diberikan secara santai saat kopi pagi sering kali jauh lebih efektif daripada sesi formal yang menegangkan di akhir tahun.
Kritik Adalah Bentuk Kepedulian
Membangun Budaya Feedback di Tempat Kerja yang sehat memang butuh waktu. Namun, saat karyawan merasa aman untuk salah dan diberi ruang untuk belajar, produktivitas justru akan meningkat dengan sendirinya.
Ingat, tujuan akhir dari feedback adalah perbaikan, bukan penghakiman. Maka dari itu, mari kita ubah gaya komunikasi kita menjadi lebih suportif dan transparan.
Apakah tim Anda masih kesulitan mengelola jadwal evaluasi kinerja secara rutin? Gunakan fitur Performance Management dari Nusawork untuk menjadwalkan sesi feedback yang lebih teratur, transparan, dan terdokumentasi dengan baik. Coba Gratis Sekarang